Arsip

HWPCI Tingkatkan Prestasi &Percaya Diri Wanita Penyandang Disabilitas Indonesia dalam Pertadingan Tennis Kursi Roda Wanita

Pada bulan November 2009 sampai dengan November 2010, Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia (HWPCI)  bekerjasama dengan Kedutaan Besar kerajaan Belanda mengadakan pelatihan tennis kursi roda wanita. Peserta pelatihan terdiri dari 20 orang wanita dengan disabilitas fisik. Selain kesehatan fisik dan psikologi meningkat, pelatihan tennis ini juga berhasil meningkatkan prestasi dan memunculkan petenis baru. Dengan adanya pelatihan ini eksistensi petenis wanita kursi roda mulai diakui, dengan diundangnya Team Tennis Kursi Roda HWPCI dalam Turnament Tennis Pusrehab KemHan RI pada bulan Juni 2010 dan Kompetisi Nasional Tennis Kursi Roda yang diadakan oleh PERPARI dan BII pada bulan Oktober 2010.

Dalam rangka penutupan program kerjasama Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia dan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, HWPCI mengadakan pertandingan tennis kursi roda wanita  untuk memperebutkan Piala Kedutaan Besar Kerajaan Belanda  pada tanggal 8 – 9 Januari 2011, waktu : 10.00 WIB s/d selesai di lapangan tennis RS. Dr. Suyoto Jl. RC Veteran No. 178 Bintaro, Jakarta Selatan yang akan dikuti oleh peserta pelatihan dan petenis wanita diluar pelatihan.

Dalam acara pembukaan pada tanggal 8 Januari 2011 Ketua Umum HWPCI, Asisten Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Wakil dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan Kepala Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan RI turut memberi sambutan. Acara pembukaan Pertandingan Tennis Kursi Roda Wanita ini ditandai dengan Pemukulan Bola Tennis oleh Asdep Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

Minggu, 9 Januari 2011 digelarlah acara penutupan sekaligus penyerahan Piala kepada Para Pemenang Pertandingan kepada Idayani (Juara Tunggal Puteri senior), Sunarti (Juara Tunggal Puteri Junior) serta Cindy & Nayla Sabila (Juara Ganda Puteri). Para pemenang sangat senang karena selain Piala Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, mereka juga mendapat  hadiah dari Kepala Bidang Pertandingan PELTI Bapak Yohanes Susanto yang memberikan satu buah Raket kepada setiap pemenang pertandingan.

Semua Peserta berharap bahwa pelatihan tennis kursi roda wanita ini dapat terus brlanjut dan dapat menjadi bekal bagi teman – teman untuk menjadi atlet wanita kursi roda.

Iklan

HWPCI MENGIKUTI WHEELCHAIR TENNIS TOURNAMENT BII OPEN 2010

 

 

Opening Ceremony

Opening Ceremony

 

Hari Jum’at – Minggu, 8 – 10 Oktober 2010 lalu, di  Pusat Lapangan Tennis Kemayoran, Jakarta. Tenis Kursi Roda HWPCI mengirimkan 5 peserta untuk mengikuti “Wheelchair Tennis Tournament BII Open 2010”  yang diselenggarakan oleh Bank International Indonesia (BII) bekerja sama dengan Persatuan Paraplegia Indonesia (PERPARI) yang juga mendapatkan dukungan dari Badan Pembina Olah Raga Cacat (BPOC) Pusat.

Tournament ini diikuti  lebih dari 50 peserta tennis kursi roda dari berbagai wilayah di pulau Jawa, dari peserta pemula sampai profesional mempunyai kesempatan bertanding ditournament ini untuk memperlihatkan kemampuan mereka. Walaupun perwakilan peserta dari HWPCI tidak ada yang memenangkan juara pertama, namun peserta HWPCI gembira dan merasa puas karena dengan adanya tournament ini mereka berkesempatan untuk bertanding dan menunjukan kemampuan mereka.  Peserta tennis kursi roda HWPCI dapat mengukur hasil dari pelatihan mereka selama ini, sehingga kini mereka  termotivasi untuk lebih meningkatkan pelatihan tennis kursi roda agar dikemudian hari HWPCI dapat memenangkan juara pertama di setiap pertandingan tennis kursi roda.

Indonesia Kehilangan Pelatih Wheelchair Tennis

Setelah selesai makan malam pada hari Senin, 07/06, Pak Charlie, demikian teman-teman atlet tenis kursi roda memanggil Pak Charles Rampen, segera beranjak tidur setelah sebelumnya ia meminta dibangunkan pada pukul 22. Menjelang pukul 22 ia dibangunkan oleh anggota keluarganya namun, jasadnya sudah terbujur kaku.

Kabar kepergian Pak Charlie segera menyebar ke teman-teman yang selama ini menjadi anak didiknya. Sebuah kabar yang sangat membuat semua terkejut karena tidak mendengar kabar sakitnya beliau.

Perjalanan Karir

Pada tahun 1994 Pak Charlie didaulat oleh ITF dan juga Pelti untuk menjadi pelatih tenis kursi roda Indonesia. Dari sanalah ia mulai mencintai dunia Penyandang disabilitas (pengganti istilah penyandang cacat). Untuk lebih fokus dalam melatih, sampai-sampai ia relakan dirinya berhari-hari menggunakan kursi roda untuk beraktivitas di dalam dan luar rumahnya. Ia ingin dapat merasakan benar bagaimana seseorang beraktivitas dengan kursi roda. Akhirnya, ia pun melatih anak-anak didiknya menggunakan kursi roda.

Pada tahun 1999, Pak Charlie sempat beberapa lamanya bermukim di Malaysia untuk melatih atlet-atlet di sana atas permintaan pemerintah Malaysia yang pada saat itu masih sering menimba ilmu kepada Indonesia.

Pak Charlie merupakan pelatih yang telah berhasil menjadikan atlet Indonesia bersaing dengan Thailand di ASEAN Paragames setiap tahunnya. Dan pada Paralympic di Beijing, Idayani yang menjadi siswinya berhasil lolos kualifikasi dan ia dapat merasakan atmosfir pertandingan seluruh atlet dunia.
PAk Charlie juga merupakan atlet yang memiliki dedikasi tinggi terhadap penyandang disabilitas. Ia rela tidak mendapatkan upah sepeser pun selama bertahun-tahun dalam melatih anak-anak didiknya. Bahkan yang lebih menghurukan lagi, ia rela berpisah dengan keluarganya yang bermukim di Amerika hanya karena kecintaannya kepada tenis kursi roda Indonesia. Beliau juga rela melepaskan kesempatan untuk menjadi pelatih di negeri Paman Syam tersebut. Sungguh sebuah pengorbanan yang sangat besar atas kecintaannya kepada tenis kursi roda Indonesia.

Pada Januari 2010 Pak Charlie menandatangani kontrak dengan HWPCI untuk melatih atlet-atlet wanita anggota HWPCI. Kesediannya melatih lebih kepada cita-citanya memajukan tensi kursi roda daripada nilai kontrak yang ditawarkan kepadanya yang jauh dari nilai sebenarnya kontrak sebagai pelatih.

Kini cita-cita luhur memajukan tenis kursi roda Indonesia tertanam disetiap pundak atlet binaannya. Siapakah yang akan rela berlaku seperti beliau untuk meneruskan cita-citanya?
Jasad Babeh saat ini masih disemayamkan di rumah duka RS. Cikini menunggu putera-puterinya yang akan datang dari Amerika.
Selamat jalan Pak Charlie, jasa dan pengorbananmu tak kan kami lupakan.

HWPCI Gelar Eksibisi Tenis Kursi Roda Wanita

Foto bersama dengan para tamu undangan
Foto bersama dengan para tamu undangan

Dalam rangka memeringati Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (15/05) HWPCI kembali mengadakan sebuah acara. Kali ini sukses mengadakan pertandingan eksibisi yang diadakan di lapangan tenis Pusrehab Kementerian Pertahanan Bintaro. Pada kesempatan tersebut hadir selaku undangan Bapak Prof. Dr. Hayono Suyono (Ketua Umum DNIKS) beserta Isteri, Pak Petter (Kedutaan Besar Belanda), Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Direktur PRSPC Kementerian Sosial, Drg. Hesti (mewakili Ka. Pusrehab Kemhan) dan beberapa undangan lainnya.

Dra. Hj. Ariani dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada kedutaan besar Kerajaan Belanda yang telah mendukung secara penuh program pembinaan atlet wanita tenis kursi roda. Berawal dari keperihatinannya atas prestasi tenis kursi roda wanita, maka HWPCI berinisisatif mengadakan pembinaan khusus wanita dan program tersebut  mendapat dukungan dari kedubes Kerajaan Belanda. Saat ini sebanyak 20 wanita penyandang disabilitas yang mengalami gangguan pada kaki telah bergabung di dalamnya. Beberapa diantaranya bahkan sudah ada yang menjadi atlet peraih medali emas pada PORCANAS (Pekan Olahraga Cacat Nasional).

Acara tersebut terasa istimewa karena dibuka langsung oleh Prof. Dr. Hayono selaku Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS). Dalam sambutannya yang pebuh semangat beliau menyampaikan rasa bangga kepada HWPCI selaku binaan DNIKS yang telah gigih berjuang untuk kaum perempuan penyandang disbilitas. Dalam kesempatan itu pula beliau menyampaikan kesediaanya menambah 5 buah kursi roda tenis untuk diberikan kepada HWPCI, guna menambah kursi roda yang telah diberikan oleh kedutaan besar Kerajaan Belanda.  Profesor juga menginformasikan bahwa d-radio menyiarkan secara live acara pembukaan eksibisi tersebut dengan maksud agar non-penyandang disabilitas tergugah semangatnya dengan mendengar secara langsung perhelatan yang diadakan oleh penyandang disabilitas.

Pada pertandingan eksibisi tersebut keluar sebagai juara I adalah pasangan Laeli Yuntari dan Aya, Juara II dimenangkan oleh pasangan Bella dan Irna Novita, juara III diraih oleh Yoyoh dan Rasmi. Sekalipun tidak semua atlet merasakan kompetisi, namun mereka bisa melihat semangat dan strategi bermain yang ditunjukkan oleh teman-temannya; panas matahari tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tampil menjadi yang terbaik. Diharapkan dari pertandingan eksibisi tersebut menjadi ajang pemanasan sebelum mengikuti  pertandingan sesungguhnya yang akan digelar di tahun ini.

Di akhir acara diberikan penghargaan kepada Pak Didi dan Pardijono selaku pengantar para etlet untuk bisa sampai berlatih. Penghargaan juga diberikan kepada Pak Suyatno yang telah mengisi acara dengan iringan musik organ tunggalnya.

HWPCI Bina Atlet Tenis Kursi Roda Wanita

Sopi & Aya berpose bersama

Sopi & Aya

Berawal dari keadaan kekurangan fisik, Sofie berkenalan dengan satu cabang olahraga bergengsi di kalangan disable, tenis kursi roda. Ya, itulah cabang olahraga yang cukup banyak digemari.
Sofie memang tidak muda lagi, tetapi ia tetap bersemangat berlatih di bawah asuhan Charles Rampen yang akrab dipanggil Pak Charli. Setiap Sabtu dan Minggu Sofie aktif berlatih di tengah terik matahari. Ia berlatih di lapangan PUSREHABCAT DEPHAN Bintaro. Bagi Sofie merupakan tantangan tersendiri untuk bisa sampai di lapangan tenis, karena ia harus membawa kendaraan sendiri dengan menempuh jarak k.l. 20 km dari rumahnya di bilangan Jembatan Tiga. Walaupun ia penyandang disabilitas tetapi, ia mampu membawa kendaraan roda empat secara mandiri.

Selain Sofie, beberapa atlet lainnya yang sama-sama berlatih dengan Sopi antara lain: Mbak Retno, Ida yani (Ranking 1 Nasional), Laely Yuntari, Aya, Irna, Ibu Tuti, Ibu Endang, Dera, Sunarti.

Dari kanan ke kiri: Mbak Retno, Sopi, Ibu Yuni, Aya, Ibu Tuti, Sunarti, Irna Novita

Dari Kanan ke kiri: Mbak Retno, Sopi, Ibu Yuniastuti, Aya, Ibu Tuti, Sunarti, Irna Novita

Gina Putri Mbak Retno yang Selalu Siap Membantu Mamanya dan para Atlet

Selain itu, HWPCI masih membina atlet perempuan lainnya yang berada di Jakarta Barat. Mereka adalah warga binaan Pansi Sosial Bina Daksa Cengkareng. Mereka dilatih oleh Ahmad Ade, seorang atlet tenis kursi roda mantan nomor satu Indonesia.

Sekalipun mereka tidak berlatih bersama namun, semangat mereka tetap satu. Mereka bercita-cita memajukan tenis kursi roda wanita Indonesia.

Bravo!