Kronologi Tanah dan Bangunan Swa Prasedya Purna YHK, Cempaka Putih

Tanah  Cempaka Putih ini luasnya  27.250 m2  terletak di Jln Cempaka Putih Raya ,No.1 Jakarta Pusat,  Pemegang hak  adalah Swa Prasedya Purna – Yayasan Harapan Kita. Status Hak yang dimiliki yayasan Harapan Kita adalah ” HAK PAKAI dan  jangka waktu berlakunya hak Pakai adalah selama tanahnya dipergunakan untuk keperluan sosial. Tanah ini sendiri adalah berasal dari Tanah Negara bekas E. 15550. Pemberian hak pakai kepada Yayasan Harapan Kita oleh Negara berdasarkan  Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal    31 Pebruari 1980         No. 266/HP/DA/80.

  1. Tanah ini sejak awal dikelola oleh Yayasan yang bernama Swa Prasedya Purna Sangar Karya Industri Penyandang Cacat – Yayasan Harapan Kita. Dari namanya  sangat jelas bahwa Yayasan ini dibawah naungan Yayasan Harapan Kita , yang secara khusus  yayasan ini bergerak dibidang pemberdayaan penyandang cacat. Yayasan ini didirikan oleh  Alm Ibu Tien Soeharto dan diresmikan  oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Januari 1975.
  2. Alm. Ibu Tien Soeharto  sebagai pendiri  Swa Prasedya Purna Sanggar Karya Industri Penyandang Cacat – Yayasan Harapan Kita memiliki gagasan dan cita- cita luhur yakni memperuntukkan Tanah Cempaka Putih sebagai Pusat kerajinan dan pelatihan bagi para penyandang cacat Nasional  dan setelah terampil penyandang cacat sebagian direkrut untuk dipekerjakan dibeberapa unit usaha SPP. Sebagian ada juga penyandang cacat yang telah memiliki keterampilan kembali ke daerah   masing- masing untuk menerapkan ilmu dan  keterampilan yang telah di dapatkan dari SPP  dan berkat keterampilan yang didapatkan sebagian besar lulusan SPP berkeluarga dan   hidup secara  mandiri.  Beberapa unit usaha yang ada di cempaka putih   yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat  diantaranya : unit percetakan, unit gelas ukir, unit konveksi dan unit perdagangan umum.
  3. danya lahan cempaka putih sebagai Pusat kerajinan dan pelatihan bagi para penyandang cacat terbukti telah mengahasilkan  ribuan  penyandang cacat yang telah menjadi mandiri   tanpa membebani orangtua dan keluarganya.
  4. Keharuman dan nama baik  Indonesia dalam penanganan permasalahan penyandang cacat mendapatkan pujian dan kehormatan dari berbagai tamu kenegaraan yang berkunjung ke SPP Cempaka Putih.  Tahun 1975 – 1977 cempaka putih sebagai Pusat kerajinan dan pelatihan bagi para penyandang cacat setidaknya dikunjungi oleh : Ny Fukoda ( istri Perdana Menteri Jepang), Ny Djihan Saddat ( istri Presiden Mesir ), Ny Hasanah Bolkiah ( Istri Sultan Brunai Darussalam dan bebarapa tamu penting lainnya. Cempaka Putih juga  pada masanya dijadikan sebagai wadah/tempat rujukan dari departemen – departemen sektor pemerintah dan swasta dalam penanganan permasalahan penyandang cacat.
  5. Bahwa sejak tahun  1984   dengan alasan yang tidak jelas pihak yayasan Harapan Kita menutup beberapa unit usaha yang sebelumnya  justru banyak merekrut dan memberdayakan para penyandang cacat. Tanggal 6 Agustus 1998 Yayasan Harapan Kita secara resmi menutup tanah cempaka putih sebagai sebagai  Pusat kerajinan dan pelatihan bagi para penyandang cacat. Tindakan Penutupan lahan dari kegiatan para penyandang cacat  oleh Yayasan Harapan Kita sangat merugikan penyandang cacat terutama bagi yang ingin mendapatkan keterampilan untuk mandiri .
  6. Sejak tahun 1997 beberapa organisasi penyandang cacat tingkat nasional seperti Persatuan Penyandang Cacat Indonesia ( PPCI ), Federasi Kesejahteraan Penyandang Cacat Tubuh Indonesia                       ( FKPCTI ), Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia                          ( HWPCI ), Badan Pembina Olah Raga Cacat ( BPOC) dan beberapa organisasi kecacatan lainnya memakai salah satu gedung bangunan Cempaka Putih sebagai Sekretariat Organisasi dan Pusat aktifitas  penyandang cacat. Selama ini juga   Organisasi ini   merupakan mitra penting   pemerintah di dalam  merumuskan  berbagai kebijakan dan program- program berkaitan dengan permasalahan penyandang cacat di Indonesia.
  7. Saat ini Yayasan Harapan Kita meminta agar  seluruh organisasi penyandang cacat yang berdomisili dan berkantor di Cempaka Putih  untuk segera mengosongkan bangunan yang selama ini dipakai tanpa ada penawaran solusi terhadap lokasi dan tempat  keberlanjutan kegiatan dan aktifitas organisasi kecacatan kedepan .
  8. Para penyandang cacat dan organisasi kecacatan mengkuatirkan bila Yayasan Harapan Kita tidak mengijinkan lagi lahan Cempaka Putih  di pergunakan sebagai Pusat kegiatan organisasi kecacatan, dan sebaliknya bila Yayasan Harapan Kita justru  membangun lahan cempaka putih untuk tujuan komersial profit semata seperti membangun   hotel atau apartemen dan inilah yang  menjadi kekuatiran para penyandang cacat .
  9. Sudah saatnya Negara/pemerintah peduli dan memberikan perlindungan terhadap para penyandang cacat, termasuk menyediakan lahan atau tempat yang diperuntukkan sebagai Pusat Pemberdayaan Penyandang Cacat Nasional.
  10. Dari uraian diatas setidaknya ada beberapa hal   yang sebaiknya menjadi bahan pembahasan dalam rapat koordinasi yang difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat yakni :
  • Usulan dari para penyandang cacat dan organisasi kecacatan agar lahan cempaka putih yang saat ini merupakan hak pakai dengan fungsi sosial diperuntukkan sebagai pusat pemberdayaan penyandang cacat nasional tanpa mempermasalahkan pemegang haknya.
  • Mencari jalan keluar untuk organisasi- organisasi penyandang cacat  yang selama ini berkantor dan telah banyak berkontribusi baik bagi para penyandang cacat maupun  bagi pemerintah dalam upaya pemberdayaan penyandang cacat secara nasional namun   segera akan digusur oleh pihak Yayasan Harapan Kita
  • Usul dari organisasi kecacatan dan para penyandang cacat   agar Negara yang diwakilioleh Kementerian Dalam Negeri sebagai pemberi hak pakai kepada Yayasan Harapan Kita  sesuai amanat Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 31 Desember 1980 No. SK.266/HP/DA/80   dapat meninjau ulang pemberian hak pakai yang telah diberikan kepada Yayasan Harapan Kita  atau setidaknya dapat memastikkan   agar lahan tersebut        diperuntukkan bagi  pusat pemberdayaan penyandang cacat Nasional dan bukan untuk kepentingan komersial profit.
  • Mengusulkan agar negara  yang diwakili oleh Badan Pertanahan Nasional ( BPN )  dan Kementerian Dalam Negeri   bersama- sama   melakukan pemantauan, pengawasan agar lahan Swa Prasedya Cempaka Putih benar- benar di peruntukkan dan dimanfaatkan untuk keperluan sosial khususnya bagi penyandang cacat  sesuai amanat Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 31 Desember 1980 No. SK.266/HP/DA/80.

Demikian kronologi tanah dan bangunan Swa Prasedya Purna- (SPP) Yayasan Harapan Kita Cempaka Putih di buat oleh Koalisi Organisasi Kecacatan Nasional berdasarkan dokumen pendukung.

Ditulis oleh: Heppy Sebayang, SH

One thought on “Kronologi Tanah dan Bangunan Swa Prasedya Purna YHK, Cempaka Putih

  1. Aduh jangan fitnah dan bodoh ya. Semua broker juga tahu. Tanah Apt Holland Village Cempaka Putih itu dulu tanah coca cola, seluas 4390m2. Terus di agunin ke Bank Bali yg berubah jd Bank Permata, trus di beli Lippo. Mau fitnah, cari info dulu yg benar. Luasnya aja salah. Apa sih maksudnya fitnah2 orang. Apa ini saingannya LIppo atau broker yang kesal krn gak bisa jual tanah ini, keburu laku sm lippo ya. Kasihan yg gak dapet komisi.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s